4 Tahun Menikah: Karir dan Kehidupan di Berbagai Lokasi

Banyak orang yang berkata, “Kalau mau mencari uang yang banyak ya Jakarta tempatnya.” pada saya, jauh saat saya masih duduk di bangku kuliah, dalam beberapa kali kesempatan saya mengunjungi kota ini. Ya, memang ada benarnya juga yang dikatakan orang-orang, Jakarta adalah tempat yang tepat untuk orang-orang dengan pekerjaan yang berkutat di seputar teknologi informasi seperti saya. Membangun tech startup kalau tidak dilakukan di Jakarta, akan sulit mendapatkan exposure dan pendanaan.

Jakarta dengan Berbagai Cerita

Saya dan suami saya, Asep Bagja, menikah pada bulan Mei 2014 di Semarang. Sebelumnya, kami sudah saling mengenal lebih jauh sejak 2012, saat suami masih menjadi pekerja lepas. Setelah menikah, kami tak langsung tinggal serumah. Suami tinggal di Jakarta, dan saya di Semarang. LDM selama beberapa bulan, ceritanya.

Lalu, sekitar bulan September 2014, saya dan suami mulai menetap di Jakarta. Suami membangun bisnis agensi digital marketing di Froyo Story, dan saya bergabung ke salah satu perusahaan teknologi besar di Indonesia. Kami tinggal di salah satu daerah yang padat dan sibuk di Jakarta Selatan. Sehari-hari, kami commuting menggunakan beberapa moda transportasi. Dan hal tersebut kami akui cukup melelahkan secara fisik dan mental.

Fast forward, kami pindah ke Tangerang Selatan di bulan Juni 2015. Saya tak lagi bekerja di perusahaan teknologi besar itu, dan bergabung dengan startup kecil yang baru mulai. Kami menemukan sedikit kedamaian disana. Ya walaupun masih macet kesana-sini, dan ramai dimana-mana, tapi cukup lumayan lah. Saya tak lagi bekerja pada siapapun. Jadi ibu rumah tangga biasa. Berkebun, memasak, bebersih rumah—begitu saja kegiatannya.

Mengejar Passion dan Memulai Hal Baru

Sejak awal tahun 2015, kami mulai memiliki hobi berkebun. Sebetulnya, saya sudah menyukai kegiatan ini sejak usia yang masih sangat kecil. Ayah saya seorang pegawai di perusahaan pupuk, dan beliau yang jugalah ‘memaksakan’ saya untuk menanam sayuran dan buah-buahan di rumah. Karenanya, saya pun jadi ingin memelihara budaya baik ini setelah menikah. Namun, di tahun itu, kami masih tinggal di apartemen. Kurang memungkinkan untuk saya berkebun. Akhirnya kami pindah ke rumah biasa (rumah kontrakan, tepatnya) supaya bisa berkebun.

Kebun kecil di greenhouse plastik. Disini kami menanam lebih dari 100 tanaman sayuran dan buah.
Di rumah ini, kami hanya bertahan 1 tahun saja. Ada masalah yang ditimbulkan pemilik rumah, dan masalah tersebut sangat menjengkelkan buat kami. Daripada kepala makin pusing, lebih baik pindah saja. Plus, di rumah tersebut kami kesulitan mendapatkan koneksi internet yang memadai.

Kami belajar untuk hidup seadanya, walaupun perencanaan dilakukan, namun kadang prioritas pun harus bergeser karena kondisi dan keperluan mendadak saat itu. Kami bukan tipe pasangan yang suka kongkow bareng teman, bukan juga tipe yang doyan jajan di kafe dan restauran trendi. Sebagian besar waktu yang tak dihabiskan untuk bekerja, kami habiskan di rumah untuk bersantai, dan sesekali menikmati kopi di warung. Our life in South Tangerang at that time was really simple, and I’m very grateful for that.

Di Tangerang Selatan—tepatnya di Bintaro—kami menetap selama kurang lebih 3,5 tahun bersama beberapa kucing kesayangan kami. Bisnis suami berjalan baik, walaupun masih kurang disana-sini, tapi lumayan pertumbuhannya. Suami juga sempat membuka sub-bisnis di bidang edukasi juga, namun hanya berjalan 2 tahun. Di pertengahan 2017, beliau memutuskan untuk resign dari Froyo Story dan fokus untuk membesarkan Tanibox. Mengapa resign dari situ jika memang bisnisnya berjalan baik-baik saja? Well, terkadang memang dibutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman demi mengejar hal yang dianggap punya masa depan yang lebih baik, sih. Dan kami merasa, pilihan kami untuk terjun dan membaktikan diri di bidang agrikultur adalah hal yang tepat.

Matthew dan Garfield, duo tengil kesayangan kami. Kemanapun kami pindah, mereka akan selalu bersama kami.

Jalan kami tak mudah. Keluar dari perusahaan yang lama dan membentuk perusahaan baru dibidang yang sama sekali tidak berkaitan, itu artinya kami harus memulai dari nol lagi. Tanibox adalah perusahaan teknologi agrikultur, namun diantara kami berdua tidak ada yang menempuh pendidikan di bidang tersebut. Otomatis, kami tidak punya pengalaman memiliki kebun produksi.

Sudah tak terhitung lagi berapa kali kami melakukan pivot produk. Di awal-awal, saya sebagai salah satu perencana produk utama juga bingung sendiri, apa yang kami bisa jual. Tapi lambat laun, kami menemukan celah yang bisa dimasuki. Itupun masih butuh perjuangan panjang. Dan tinggal di daerah padat penduduk, kami kesulitan untuk mengejar market. Produsen produk pertanian adanya di pedesaan, bukan di ibukota. Aneh rasanya kalau membuat produk yang akan digunakan oleh petani-petani di desa, tetapi dilakukan dari gedung-gedung bertingkat di Jakarta. Saya pribadi merasa ada yang salah.

Disamping itu, kami merasa tidak akur lagi dengan kondisi kota yang ramai seperti Jakarta. Jika bepergian, pilihannya adalah agak macet, macet, dan macet banget. Sekalipun kami tidak memiliki mobil, tetapi macet-macetan dengan motor itu juga bukan hal yang enak. Semakin hari, semakin merasa penat, tidak nyaman, tidak senang. Jenuh yang sudah sampai level akut, sedikit menumbuhkan kebencian saya terhadap Jakarta (dan Tangerang). Ya sudah, kami memilih untuk pergi saja dari kota itu.

TÜK Nahahaiguste Kliinik, Tartu, Estonia.

Antara Tallinn atau Denpasar

Kami sempat mempertimbangkan untuk pindah ke Tallinn, Estonia. Bukan tanpa alasan, sih, karena kami sudah pernah kesana di akhir 2017, kami jatuh hati dengannya, dan bahkan Tanibox pun terdaftar sebagai perusahaan resmi disana. Alasan ingin pindah ke Tallinn, well, salah duanya adalah Estonia itu negara berkembang yang pertumbuhan teknologinya sangat pesat. Bukan rahasia lagi, kesuksesan Skype dan TransferWise yang dimulai disana adalah kunci kemajuan Estonia dalam bidang teknologi. Selain itu, Estonia adalah salah satu anggota dari Uni Eropa. Otomatis, jika tinggal disana akan memudahkan kami untuk mengakses pasar agrikultur EU.

Namun kami harus menghadapi kenyataan, pindah ke Tallinn bukan hal yang mudah. Perjalanannya saja menghabiskan waktu sehari. Belum lagi hal-hal krusial lainnya juga harus dipertimbangkan. Kami pun mengurungkan niat untuk pindah kesana.

Pilihan lainnya adalah Denpasar, ibukota Bali. Provinsi yang satu ini bahkan jauh lebih terkenal di mancanegara. Beberapa kali berkunjung cukup lama di Bali, kami menemukan kenyamanan yang berbeda. Dan Bali pun dapat memberi competitive advantages untuk Tanibox. Disana banyak perkebunan, baik organik maupun konvensional. Perkebunan kecil, menengah, bahkan komoditas besar seperti kopi pun ada. Tentu saja, ini adalah pilihan terbaik yang bisa kami ambil untuk saat ini. 😉

Good Bye, Jakarta! Hello, Bali…

Pilihan kami jatuh ke Bali, di sekitaran Denpasar tepatnya. Banyak yang bilang kalau Bali itu ‘kan tempat berlibur, bukan tempat bekerja atau mencari rejeki. Ah, kami sudah masa bodoh. Kami percaya, mencari rejeki (yang baik) itu bisa dilakukan dimana saja. Lagian, pemikirannya kok sempit sekali, mencari uang banyak hanya bisa dilakukan di ibukota. Lha memangnya, kalau jadi petani di desa tidak bisa memiliki uang banyak, gitu? Dimana di ibukota ada lahan pertanian yang bisa memanfaatkan teknologi kami? Punya rumah dengan luasan 300 m2 saja tidak bisa harganya dibawah Rp 3 Milyar. 😆

Pantai Ketewel, hanya 10 menit berjalan kaki dari rumah.

Sekitar 2,5 bulan yang lalu—tepatnya tanggal 1 April 2018—saya dan suami beserta dua kucing kesayangan kami pindah ke Bali. Keputusan yang lumayan mendadak, karena hanya dilakukan sekitar sebulan sebelumnya. Namun, karena kami sering sekali mengunjungi Bali, dan kami merasa sangat nyaman di daerah tersebut, akhirnya ia menjadi tujuan terdekat yang bisa kami pilih.

Rumah kami bukan di daerah tujuan wisata turis. Dekat ke Sanur, dekat pula ke Ubud. Jika ingin main ke Nusa Dua, Kuta dan sekitarnya pun bisa diakses dengan tol dalam waktu kurang dari 1 jam. Menyenangkan!

Honeymoon Period: What’s After That?

6-12 bulan adalah periode bulan madu, katanya. Masih merasakan manis-manisnya tinggal di tempat baru, kenal dengan orang-orang dan lingkungan baru. Dan biasanya, akan jadi berbeda setelah honeymoon period nya habis.

Tak mengapa. Masih panjang waktu untuk kami menjalankan rencana-rencana yang sudah kami susun. Bukan tak mungkin juga untuk pindah ke tempat lain lagi, kan? Prioritas saat ini adalah menjalankan bisnis yang dapat membantu petani-petani kecil di Indonesia menjadi petani moderen yang berdikari dan lestari.

Wish us your best good luck :*

Author: Retno Ika

I'm an urban farmer and also Chief of Product in Tanibox. Gardening helps me to have a peace of mind, supply fresher foods for my family, and bring happiness to my life.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.