Teknis sebelum Bisnis, atau Bisnis sebelum Teknis?

Sebuah argumen-garis miring-pertanyaan singkat yang diutarakan salah seorang teman saya yaitu Hani Rosidaini melalui akun Facebook miliknya memantik rasa ingin berpendapat saya. Argumennya seperti ini:

Mana sih yang lebih mending; orang bisnis belajar teknis (specifically: coding), atau orang teknis belajar bisnis?

Sedikit latar belakang saya yang perlu kalian ketahui: saya adalah orang teknis, yang sehari-harinya berkutat di pekerjaan teknikal–membangun produk teknologi yang berfokus di sektor agrikultur. Tetapi, saya juga adalah seorang pewirausaha, dimana saya bekerja untuk perusahaan saya sendiri–yang didirikan oleh saya, suami, dan seorang sahabat kami.

Beberapa pendapat yang diberikan oleh kawan-kawan Hani berdasar pada pengalaman mereka sebagai sesama orang teknis, yang merasa bahwa orang yang menguasai teknik akan memiliki keunggulan lebih dalam berbisnis. Diantaranya karena:

  1. Kerangka berpikir logis yang (hopefully) sudah terbangun sejak awal;
  2. Pengetahuan yang lebih komprehensif tentang proses dari hulu ke hilir pada bidang yang dikuasai;
  3. Penguasaan kemampuan teknis yang mumpuni sudah pasti akan sukses dalam membangun bisnis yang terstruktur.

Poin pertama dan kedua, saya masih bisa mengamini. Dalam artian, memang dua hal tersebut adalah hal yang dikuasai oleh orang-orang teknis. Namun untuk poin ketiga, saya merasa ini adalah pendapat yang sangat-sangat debatable.

Let’s break these down.

Kemampuan Teknis

Kemampuan ini berlaku untuk pekerjaan yang sangat spesifik. Misalnya, teknik industri, teknik mesin, teknik kimia, dan lainnya. Kemampuan teknis dihasilkan dari praktik berulang kali secara terus-menerus dan biasanya berkaitan dengan subyek mekanis atau ilmiah (science). Kemampuan ini didapatkan tidak hanya melalui pendidikan tinggi, tetapi juga praktik di lapangan dalam kurun waktu yang cukup panjang hingga dapat dikatakan berpengalaman tinggi. Sebagai contoh, keterampilan yang mesti dimiliki oleh seorang peneliti biologi mencakup kemampuan untuk menggunakan dan merawat perlengkapan laboratorium serta menjalankan standar operasional fasilitas laboratorium; sedangkan untuk seorang pembuat roti, keterampilan yang perlu ia miliki adalah mengoperasikan peralatan dapur yang sesuai dengan produk yang ia buat dan juga menjaga sanitasi area dapurnya.

Kemampuan Bisnis

Keterampilan bisnis mengacu pada kemampuan umum untuk bekerja secara profesional di dalam organisasi. Didalamnya termasuk kemampuan untuk memimpin, bekerja dengan baik dengan orang lain, mengkomunikasikan pikiran dengan jelas, bernegosiasi soal penawaran bisnis, mengajari orang lain, mengelola waktu dengan baik, menampilkan citra profesional, berinteraksi dengan baik dengan klien, memecahkan masalah dan menggunakan penalaran matematis yang relevan. Keterampilan komunikasi dasar, seperti kemampuan menulis dan berbicara dengan efektif, juga penting. Tergantung pada peran dalam suatu organisasi, tetapi keterampilan pemasaran dan penjualan juga bisa termasuk dalam daftar kemampuan yang mesti dikuasai seorang pebisnis.

Lalu, kaitannya apa dengan argumen teknis vs bisnis diatas?

Begini, pemirsa, orang teknis itu terbiasa untuk berfikir komprehensif dalam kerangka berfikir logis. Dari A sampai M, apapun yang terkait dengan bidang yang diminatinya, mereka akan tahu bagaimana cara menciptakan sesuatu, dan bagaimana sesuatu bisa tercipta. Jika ada masalah yang terkait dengan hal teknis, ia bisa menemukan solusinya secepatnya. Tetapi, orang teknis biasanya punya isu dengan bekerja sama dalam sebuah tim atau organisasi. Banyak yang terlalu micro-managing alias suka mengatur sampai hal-hal yang remeh dan bukan pada porsinya untuk mereka kerjakan. Ada juga, yang seperti saya, agak-agak perfeksionis dan saklek. Masalahnya, orang teknis ini belum tentu menguasai N hingga Z. Dalam artian, ada hal-hal diluar subyek ilmunya yang tidak dia kuasai. Dan disinilah orang-orang dengan kemampuan bisnis bisa mengisi kekosongan tersebut.

Lho, berarti anda berpendapat bahwa orang teknis tidak bisa sekaligus menguasai ilmu bisnis?

Ya, saya bilang begitu. Saya menganggap, tidak ada satu orang pun yang bisa melakukan semuanya sendirian. Setiap orang diciptakan oleh Tuhan YME sebagai individu yang tidak bisa hidup sendirian. Tidak ada individu yang sempurna bahkan sampai ke penguasaan ilmunya. Begitu juga dengan orang teknis, yang kebanyakan menganggap dirinya lebih mampu untuk cepat menguasai bisnis dan mengantongi formula sukses berbisnis ketika sudah sukses menguasai ilmu teknisnya. Semua pihak sudah memiliki porsinya masing-masing.

No way!

Begini, kalian tahu Elon Musk, kan? Elon Musk adalah salah satu contoh manusia yang kita pikir sukses karena memiliki kemampuan teknis yang luar biasa, kemudian menceburkan diri ke dunia bisnis dan jadi sukses juga. Salah! Elon Musk memang jago dalam menciptakan ide bisnis yang menghasilkan produk-produk keren seperti Tesla dan SpaceX. Namun sejatinya, Elon Musk adalah seorang generalist yang memiliki banyak talenta-talenta hebat di bawah kepemimpinannya. Ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan ia cukup beruntung karena memiliki modal untuk mengejar rasa ingin tahu tersebut menjadi produk-produk teknologi. Elon Musk memang memiliki gelar pendidikan di bidang fisika dan ekonomi. Dua bidang itulah yang menjadi dasar kesuksesannya saat ini. Ia pernah sempat mengejar gelar PhD di bidang fisika terapan. Namun pendidikan itu ia tinggalkan setelah dua hari dimulai, karena ia lebih memilih untuk memulai bisnis.

Ia memang adalah seorang sarjana Fisika. Adalah hal yang wajar jika kemudian ia membangun SpaceX dengan impian untuk dapat memindahkan kehidupan manusia ke planet Mars. Dia tahu resep dasar membuat pesawat roket, dan dia ingin membuat pesawat roket yang lebih ekonomis, bisa dipakai bolak-balik sekalipun masih boros energi. Setidaknya, material pembentuk roket tidak terbuang begitu saja dan jadi sampah di luar angkasa. Namun, Elon tidak bekerja sendirian. Dia memiliki puluhan doktor-doktor hebat dengan gelar PhD dalam timnya. Mereka yang memikirkan dan mengerjakan semua penelitian dan pengembangan yang diperlukan untuk mengirim reusable rocket ke luar angkasa. Dan disinilah ia berperan sebagai pebisnis hipster. Bagaimana supaya roket-roket itu bisa digunakan lebih banyak orang, bagaimana mencari pendanaan, bagaimana menghasilkan uang darinya, dan seterusnya.

Kalau Richard Branson, apakah kalian tahu? Branson adalah seorang magnate bisnis yang berasal dari Inggris. Ia bahkan memiliki gelar Sir pada namanya, sebagai hadiah dari kerajaan Inggris atas kesuksesannya dalam berbisnis. Virgin Group yang ia ciptakan adalah sebuah grup usaha yang sangat besar dengan 400 usaha didalamnya. Nah, apakah kalian pikir Richard Branson memahami seluruh sisi teknis dari 400 usaha tersebut? Tentu tidak! Dia adalah seorang pebisnis. Dan pebisnis yang hebat adalah orang yang bisa melihat prospek keuntungan jika menginvestasikan uang pada satu usaha tertentu. Ia tidak perlu mengetahui detail bisnis yang ia investasikan, ia hanya perlu tahu bagaimana ide bisnis tersebut mendatangkan uang dan memberi dampak positif bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Memiliki kemampuan teknis terlebih dahulu seperti kemampuan coding sebelum belajar berbisnis ada plus-minusnya. Pada satu titik tertentu, seorang pemilik bisnis akan dituntut untuk menjadi generalist yang memiliki visi dan kemampuan kepemimpinan serta komunikasi yang baik. Pelajarilah semuanya, nikmati prosesnya. Nanti kalian sendiri yang akan menemukan celah mana yang bisa kalian isi.

Ini yang ingin saya sarankan pada pemirsa sekalian. Jangan minder hanya karena anda bukan orang non-teknis yang kebetulan menguasai bisnis. Anda masih bisa menjadi orang sukses, kok! Anda hanya perlu menguasai bidang anda dengan sangat baik, dan kemudian mengkolaborasikannya dengan orang-orang berkemampuan sangat baik dalam bidang teknis.

Dan akhir kata, untuk semua pemirsa, jangan pernah takut untuk jatuh dalam berusaha. Bangkitlah lagi dan lagi dan lagi, sehingga kalian dapat belajar untuk tidak jatuh untuk hal yang sama berulang kali. 😉

//

Gambar oleh rawpixel di Unsplash.

Author: Retno Ika

I'm an urban farmer and also Chief of Product in Tanibox. Gardening helps me to have a peace of mind, supply fresher foods for my family, and bring happiness to my life.

2 thoughts on “Teknis sebelum Bisnis, atau Bisnis sebelum Teknis?”

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.